Wednesday, 6 March 2013

Anas Urbaningrum? Hitam atau Putih?


Seperti yang kita tahu bersama, akhir akhir ini di berbagai media informasi sedang membahas kasus dugaan suap pembangunan pusat olahraga hambalang. Yang mana dalam kasus ini sempat tenggelam beberapa bulan yang lalu dan sekarang kembali muncul ke permukaan karena KPK telah menyatakan salah satu ketua umum dari partai besar di NKRI sebagai tersangka. Beliau adalah Anas Urbaningrum.
            Seperti diberitakan,  Anas ditetapkan tersangka kasus dugaan gratifikasi proyek Hambalang pada Jumat (22/2/2013) lalu. Ia menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Umum DPP Demokrat keesokan harinya. Meskipun beliau dinyatakan sebagai tersangka, kami mengapresiasi atas kebijaksanaan beliau untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum partai demokrat. Tentu tidak banyak pejabat yang seperti beliau. Banyak pejabat yang sudah dinyatakan sebagai tersangka kasus korupsi namun masih saja bersikeras ingin menjabat posisi yang saat itu sedang didudukinya. Hal ini merupakan satu pelajaran yang perlu kita contoh. Sikap tanggung jawab seperti inilah yang seharusnya dimiliki setiap pemimpin bangsa ini agar bangsa kita bisa menjadi bangsa yang lebih baik.
            Berdasar hasil wawancara khusus sejumlah media massa, Anas banyak menyampaikan pernyataan terkait internal Demokrat maupun kasusnya. Bahkan, Anas menyinggung pertemuan antara M Nazaruddin dengan politisi senior Demokrat Amir Syamsuddin yang membahas masalah Hambalang.
SBY mengaku mengikuti dinamika politik pasca-penetapan tersangka Anas. Ia menilai, permasalahan hukum Anas sudah masuk ke ranah politik. Menurut SBY, sudah terjadi campur aduk antara hukum dengan politik. Ia mengatakan, dengan fokus kepada proses hukum, Anas dan tim pengacara bisa melakukan pembelaan.
Menanggapi pernyataan SBY, Anas urbaningrum menegaskan, tidak akan mencampuradukkan persoalan hukum dan politik. Anas mengatakan, kedatangan para tokoh lintas partai yang mengunjunginya hanya bentuk silaturahim dan dukungan moral. 
"Kalau politiknya saya belum tahu. Ini peristiwa simpati saja, kumpulan simpati dan doa. Yang pasti, ini peristiwa berkumpulnya sahabat dan doa," kata Anas.
"Persahabatan dan simpati seperti ini yang tidak akan terputus," tandas Anas sambil menjelaskan jika komunikasinya dengan SBY hanyalah melalui batin saja. 
Pencampuran antar masalah hokum dan politik seperti inilah yang menjadi dilema dalam penyelesaian berbagai kasus korupsi di Negara kita. Sering kali hal – hal yang berkaitan dengan hukum dicampur adukkan dengan politik, sehingga penyelesaian menjadi rumit dan jika pihak penyidik tersangkut kepentingan politik tersebut, maka tersangka kasus tersebut tidak akan ditindak secara tegas oleh pihak penyidik. (Berbagai sumber.red)      

0 comments:

Post a Comment